Pustakawan Kontemporer

Kemerdekaan Nasional bukanlah tujuan akhir, Rakyat yang bebas berkarya adalah puncaknya (Sutan Syahrir).  Salah satu ungkapan yang penuh inspirasi dari seorang pahlawan bangsa ini yang mengharapkan putra-putri bangsa ini berjaya di masanya. Senada dengan Sutan Syahrir, Bung Hatta menyampaikan pesan abadinya bahwa dengan buku beliau bebas meski raganya terpenjara. Namun apakah semangat para pejuang itu terwariskan pada kita? Warisan semangat juang yang menyala itu menumbuhkan benih perjuangan pada salah satu tokoh pustakawan yang kita patut dan layak diteladani, Bapak Drs. Athaillah Baderi. Salah satu orasi ilmiahnya sebagai pustakawan utama patut kita apresiasi dan perlu dijadikan referensi perjuangan bagi kader-kader pustakawan masa depan. Artikel ini mengulas sebagian isi orasi ilmiah beliau beserta analisa dan dinamika dunia literasi Indonesia.

Judul orasi ilmiahnya memang tidak berubah secara substansi, intinya tentang perlunya pembentukan Lembaga Nasional Pembudayaan Masyarakat Membaca dalam Gerakan Pemasyarakatan Minat Membaca. Perjuangan beliau tak kenal lelah, dari forum ke forum hingga dari seminar ke seminar. Beliau terus menerus memperjuangkan konsepnya sampai terkadang beliau bertanya kepada diri sendiri jika menemui ketidakberhasilan. Beginikah bangsaku, perpustakaanku yang hanya bisa berhura-hura dalam acara seremonial yang megah dengan mudahnya membuat keputusan tanpa ditindaklanjuti?

Menurut data International Association for Evalution of Educational (IEA) pada tahun 1992 bahwa kemampuan membaca (reading literacy) siswa kelas IV SD di Indonesia sangat rendah. Studi kemampuan baca ini menyimpulkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-29 setelah Venezuela di peringkat 30. Relevan dengan data di atas, Vincent Greannary dalam sebuah Laporan Pendidikan “ Education in Indonesia From Crisis to Recovery” tahun 1998 menunjukkan kemampuan baca anak-anak kelas VI SD di Indonesia hanya 5,17 setelah Filipina 52,6 dan Thailand 65,1 serta Singapura 74,0 serta Hongkong 75,5. Kekurangmampuan dalam membaca berdampak juga pada penguasaan bidang ilmu pengetahuan dan matematika. Misalnya Trends in International Mathematies and Sciences Study (TIMSS) tahu 2003 menunjukkan prestasi siswa-siswa kelas 8 SMP di Indonesia hanya mampu meraih peringkat 34 di kemampuan bidang matematika dengan nilai 411 di bawah rata-rata internasional 467. Sedangkan di tes ilmu pengetahuan, Indonesia di peringkat 36 dengan nilai 420 di bawah rata-rata internasional 474. Kesimpulan data ini bahwa bangsa kita masih tertinggal dalam penguasaan matematika dan ilmu pengetahuan yang menjadi ilmu dasar pengembangan iptek demi daya saing bangsa.

Ditambah laporan United Nations Development Programme (UNDP) bahwa Human Development Indeks) berdasarkan angka buta huruf dewasa menunjukkan pembangunan manusia Indonesia menempati peringkat 112 dari 174 negara yang dievaluasi. Hal ini berarti bahwa membaca belum menjadi budaya bangsa. Solusinya adalah membaca perlu menjadi kebutuhan hidup dan budaya bangsa ini. Tentunya memerlukan proses yang panjang yaitu satu atau dua generasi, bergantung pada political will masyarakat dan Pemerintah. Ukuran waktu satu generasi berkisar 15-25 tahun. Lemahnya kemauan dan kemampuan baca suatu masyarakat mengakibatkan masyarakat tidak dapat menyelesaikan persoalan ekonomi, sosial dan politik serta kebudayaan. Negara-negara tetangga di Asia Tenggara pernah mengalami krisis moneter layaknya di Indonesia, namun dalam 2-3 tahun saja sedangkan di Indonesia lebih dari 3 tahun.

Suatu usaha konstruktif perlu dilakukan secara kolektif guna meningkatkan mutu SDM Indonesia. Usaha ini bertujuan untuk merubah sikap dan perilaku budaya dari masyarakat yang tidak suka membaca menjadi masyarakat membaca (reading society). Sebab membaca menurut Gleen Doman (1991) menyatakan bahwa membaca adalah salah satu fungsi penting dalam hidup dan semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Pertama, faktor kendala (tantangan) yang dapat menjadi hambatan pada usaha ini yaitu lemahnya sarana dan prasarana pendidikan Indonesia. Khususnya pada ketersediaan buku-buku bermutu dan eksistensi perpustakaan, serta kualitas kurikulum dan paradigma tenaga pendidik (dosen, guru serta pustakawan). Sebagian perpustakaan di Indonesia belum didukung dengan jumlah dan kualitas buku bermutu yang memadai. Buku bermutu menyangkut isi, bahasa, lay out atau penyajian yang sesuai jenjang pendidikan dan kecerdasan seseorang. Keterbatasan inilah yang menyebabkan tujuan perpustakaan sebagai basis pendidikan belum tercapai. Penyelenggaraan kurikulum pendidikan juga sebaiknya bermuatan prinsip proses pembudayaan dan pemberdayaan sepanjang hayat yang diisi dengan prinsip pengembangan budaya membaca, menulis dan berhitung bagi segenap anggota masyarakat.  Jika simbiosa prinsip ini tidak hidup dalam kegiatan belajar mengajar maka tujuan pendidikan tidak akan optimal. Begitu pun dengan paradigma tenaga pendidikan, baik dosen, guru maupun pustakawan juga harus memainkan peran sebagai motivator siswa untuk membaca untuk menumbuhkan kemauan membaca. Tanpa “promosi minat baca buku” dari para tenaga pendidik dan pustakawan maka mustahil siswa tertarik membaca.

Selain upaya di atas juga dilakukan secara aktif oleh para pejabat maupun aktivis organisasi. Tak terhitung, seminar atau talk show masalah minat baca gencar diselenggarakan oleh institusi pendidikan maupun professional namun hasilnya belum maksimal. Pembentukan organisasi guna pengentasan rendahnya minat baca masyarakat. Misalnya Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Gabungan Toko Buku Seluruh Indonesia (GATSBI), Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), Klub Perpustakaan Indonesia (KPI), Perhimpunan Masyarakat Gemar Membaca (PMGM), Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB), bahkan terbaru ini adalah Taman Baca Masyarakat (TBM) yang digerakan oleh para penulis muda yang berdedikasi pada masyarakat. Namun sampai hari ini usaha-usaha ini belum mampu mengungkit minat baca masyarakat.

Drs. Athaillah Baderi adalah salah satu penggagas Pembentukan Lembaga Nasional Pembudayaan Masyarakat Membaca yang telah cukup berpengalaman dibidangnya sejak tiga puluhan tahun. Konsep tentang Lembaga Nasional ini  merupakan hasil pemikiran pribadi beliau. Lembaga nasional ini adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) yang berada dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Lembaga ini diisi oleh para pakar   yang memikirkan, merencanakan, merumuskan kegiatan operasional, mengkoordinasikan, serta memantau dan mengevaluasi hasil-hasil pembudayaan masyarakat membaca. Program Wajib Baca dan Wajib ke Perpustakaan Bagi Siswa misalnya dapat disemarakkan di sekolah maupun perguruan tinggi. Gerakan Membaca Nasional juga harus tetap berlangsung secara kontinu dan ditindaklanjuti oleh toko buku, pengarang, penerbit maupun elemen masyarakat lain. Secara konkret, Drs. Athaillah Baderi menyampaikan bahwa implementasi strategi melalui langkah-langkah berikut: 1) pembentukan kelompok yang sepaham dengan wacana LPND, 2) usulan kepada Kepala Perpustakaan Pusat guna pembentukan Tim Inventarisasi dan Pendekatan terhadap para pakar yang berkompeten  dengan minat baca masyarakat, 3) tim bentukan kemudian mengusulkan kepada Kementerian terkait dan Perpustakaan RI guna membentuk panitia perumus konsep LPND yang terdiri dari para pakar dan pejabat terkait, 4) anggaaran kepanitiaan ditanggung oleh Kementrian terkait dan Perpustakaan RI, 5) panitia perumus membuat konsep kelembagaan, status, struktur organisasi, mekanisme kerja dan hubungan LPND dengan lembaga lain, 6)  panitia perumus kemudian mengusulkan kepada Presiden RI untuk membentuk Lembaga Nasional Pembudayaan Masyarakat Membaca yang terdiri dari para pakar menurut profesinya tanpa memandang usia, 7) anggaran Lembaga Nasional dibebankaan kepada Negara RI.

Sebagai bagian insan pendidikan, saya merasa bangga bisa membaca hasil karya dan pemikiran beliau. Jika ide besar ini dipadu dalam upaya para pegiat literasi (pada tulisan kedua) maka akan terjadi upaya yang integral dan komprehensif dalam pengentasan buta huruf, penumbuhan minat baca dan akselerasi daya saing dalam bidang matematika dan sains.  Apalagi jika sejenak kita menganalisa isi Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang menjadi kisi-kisi Ujian Nasional maka dapat kita temukan berbagai prediksi soal-soal yang menuntut ketrampilan membaca dan mengetahui isi bacaan, memahami pernyataan serta gambar (ilustrasi, tabel dan grafik).  Sehingga berbagai permasalahan mutu SDM yang bermuara pada kemauan dan kemampuan baca akan segera mendapatkan jawaban secara mengesankan. Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.

Oleh : Iwan Budiono, S.Pd.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s